Babad Dermayu: Catatan Perlawanan Masyarakat Indramayu terhadap Kolonialisme pada Awal Abad ke-19 -->

Advertisement

Babad Dermayu: Catatan Perlawanan Masyarakat Indramayu terhadap Kolonialisme pada Awal Abad ke-19

Berita Indramayu
Saturday

Artikel ini membahas naskah (manuscript) Babad Darmayu yang berasal dari daerah Indramayu, koleksi Ahmadi.1  Menurut pengakuan  pemiliknya  naskah  tersebut  digunakan  sebagai “naskah” seni pertunjukan Wayang Golek Cepak dan Sandiwara,2 sehingga cerita itu tersebar di tengah masyarakat. Oleh masyarakat Indramayu cerita dalam naskah Babad Darmayu dianggap sebagai sejarah dalam arti yang sebenarnya. Tidak seperti karya sastra sejarah pada umumnya, naskah ini ditulis dan digemari dilingkungan luar istana.3

Keberadaan naskah-naskah Babad Darmayu tersebar di sejumlah wilayah, dan lebih banyak di koleksi perorangan. Juga, tidak sedikit seniman lokal yang memiliki naskah dan atau mengetahui cerita itu. Dari tangan para seniman itu isi yang termuat dalam naskah dibunyikan dan disampaikan di ruang publik. Di antara sekian banyak naskah Indramayu yang beredar di masyarakat, yang jumlahnya mencapai angka ratusan, cerita Babad Darmayu menempati posisi penting, karena paling digemari oleh masyarakat pemiliknya.

Isi yang termuat dalam naskah Babad Darmayu dapat dibagimenjadi dua. Pertama; berisi silsilah atau asal-usul Indramayu dari awal mula berdirinya daerah tersebut hingga masa pemerintahan kolonial (awal abad 19). Di dalam naskah juga dipaparkan tentang hubungan antara penduduk dengan pemerintah Indramayu, etnis Tionghoa, Kesultanan Cirebon dan Belanda. Hubungan itu lebih bersifat kontradiktif daripada dialogis, karena ada ragam faktor yang memungkinkan terjadinya kerenggangan sosial politik yang ada. Kedua; berisi leluhur pendiri Indramayu, Raden Wiralodra, hingga berdirinya padukuhan Cimanuk yang kelak menjadi Darmayu atau Indramayu. Kedua hal tersebut, kaitannya dengan konteks sejarah, menarik dipertimbangakan ulang dalam rangka menghubungkan jalinan sejarah Nusantara secara luas.

Membahas tentang sejarah Indramayu tidak lepas dari Kali Cimanuk, yang dalam banyak sumber sejarah disebut sebagai salah satu pelabuhan strategis pada masanya. Tempat itu adalah sentral pertukaran antar budaya yang dengannya penduduk pribumi sedikit banyak terpengaruh oleh budaya lain. Menurut Tom Pires, yang dikutip oleh A. Cartesao, pada awal abad 16 M pelabuhan Cimanuk dibawah kekuasaan kerajaan Sunda, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hingga tahun 1513, yaitu masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, Kali Cimanuk adalah batas kekuasaan Cirebon dan Kerajaan Sunda (Atja dan Ayatrohaedi, 1984:27 dan 30).

Pokok bahasan yang akan diuraiakan dalam artikel ini hanya sebagian cerita yang termuat dalam naskah yaitu tentang perlawanan penduduk terhadap kolonialisme pada awal abad 19, tidak menguraikan semua informasi yang tercatat dalam naskah, dengan pertimbangan bahwa pembahasan mengenai sejarah Indramayu pada masa itu yang memanfaatkan sumber lokal, seperti naskah, masih belum banyak dilakukan.

Perlawanan yang dilakukan oleh penduduk Indramayu yang sebagian banyak petani tersebar di desa-desa dan hutan-hutan. Pemerintah menyebut mereka sebagai berandal (pengacau atau perampok). Markas mereka pada awalnya berada di Indramayu, lalu berpindah-pindah ke sejumlah tempat, dan akhirnya ke Karawang (1816). Jumlah orang yang bergabung dalam pemberontakan setiap hari terus bertambah. Meskipun pada tahun itu markas mereka di Karawang, sesungguhnya perlawanan difokuskan ke Cirebon dan memang hendak meruntuhkan Cirebon, dan juga Indramayu, seperti yang tercatat dalam surat residen Cirebon dan kepala pemerintahan Priangan (Van Der Kemp, 1979:7).

Susunan yang akan dikemukakan dalam artikel ini, setelah pendahuluan sebagiamana tersebut di atas yaitu tentang naskah, ringkasan isi, tipologi perlawanan pribumi atas kolonial pada* masa abad19, perlawanan penduduk Indramayu, silsilah bupati Indramayu, percobaan kudeta atas penguasa pribumi sebagai sikapa anti kolonial, dan ringkasan.

Tentang Naskah Babad Darmayu

Naskah Babad Darmayu koleksi Ahmadi berasal dari Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu. Ukuran naskh 22x17.5 cm, dan ukuran blok teks 15x17 cm. Naskah terdiri dari 26 halaman. Jumlah baris tiap halaman rata-rata 12 baris, dan panjang baris tiap halaman juga tidak sama. Naskah menggunakan aksara Carakan berbahasa Jawa. Alas naskah menggunakan kertas kwarto, kondisinya sudah lapuk. Halaman awal dan akhir tidak ada. Naskah ini memuat cerita asal-usul Indramayu dari awal mula berdirinya hingga masa pemerintahan kolonial Belanda. Naskah ini tidak memuat informasi penanggalan, sehingga penulis akan melakukan beberapa langkah untuk memperkirakan tahun penulisan dan konteks peristiwa yang pernah terjadi sebagaimana digambarkan dalam naskah.

Ilustrasi

Di dalam Memperkirakan Titimangsa Suatu Naskah, Asdi S. Dipodjojo (1996:9-13) memberikan dua hal jika tidak memuat informasi tentang penanggalan; interne evidensi dan ekstern evidensi. Oleh karena naskah yang dijadikan sumber kajian dalam artikel ini tidak ditemukan maka saya merujuk pada naskah yang memuat penanggalan. Berdasarkan naskah Babad Darmayu dengan nomor registrasi 1.368 dan nomor inventarisasi 183.1498/07.35 terdapat manggala; ditulis pada tahun 1900. Dari 10 naskah yang sudah saya cermati hanya satu naskah yang memuat informasi nama penyalin, yakni Syarif Taimah Asikin Tirtawidjaya pada tahun 1977.

Selain naskah tersebut, naskah lain yang menyebutkan informasi penanggalan naskah Babad Darmayu koleksi Opan Safari, serta catatan sejarah desa Cikedung, Indramayu. Sumber lain yang menyebutkan perlawanan penduduk Indramayu dan sekitarnya terjadi pada tahun 1802. Para pemberontak membuat kerusuhan di berbagai tempat. Kandanghaur adalah salah satu wilayah di Indramayu yang menjadi sasaran pemberontaka itu (Sutrisno. K, 1990: 100). Diduga perlawanan mulai muncul pada tahun 1800, masa transisi yang sedikit banyak akan bardampak bagi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali Indramayu yang pada masa itu menjadi bagian dari Cirebon, tidak heran jika pemberontakan awal meluap di tempat ini (Sobana. H dan Tawalinuddin. H, 2011:129).

Baca Juga

Ringkasan Isi

Naskah Babad Darmayu memuat cerita asal-usul daerah Indramayu dari awal mula berdirinya daerah tersebut hingga masa kolonialisme. Di dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa leluhur pendiri Indramayu berasal dari Bagelen, Jawa Tengah. Naskah ini tertulis dalam bentuk ringkasan yang digunakan sebagai sumber untuk seni pertunjukan sebagaimana dijelaskan di atas. Untuk menghindari reduksi teks, maka ringkasan yang ditampilkan di bawah ini hanya sedikit melakukan pengurangan.

Sejak VOC runtuh, semua wilayah kekuasaannya diserahkan ke Negara Belanda. Namun, setelah Belanda ditaklukan oleh Prancis tidak berarti wilayah kekuasaan Belanda diambil alih oleh Prancis, tapi tetap dilanjutkan oleh Belanda. Dikatakan dilanjutkan oleh Belanda karena praktik penindasan itu serupa dengan yang dipraktikan oleh Belanda. Di sejumlah tempat, di Jawa, perlawanan yang diakibatkan oleh kebijakan yang secara terang-terangan menindas dan memeras dapat kita jumpai dari sejarah perlawanan Diponogoro, perlawanan penduduk Banten, Penduduk Cirebon, dan sejumlah tempat lainnya.

Hal yang diuraiakan dibawah ini adalah bentuk-bentuk perlawanan atau hal cara-cara yang dilakukan oleh penduduk pribumi atas kolonial sebagaimana termaktub dalam naskah Babad Darmayu. Perlawanan itu berdampak besar dan panjang sehingga bersentuhan dengan sejumlah lapisan masyarakat lainnya. Tidak hanya antara golongan yang berkepentingan menduduki bupati atau menduduki posisi strategis lainnya, melainkan juga berkaitan dengan kepentingan banyak orang. Dan, motif perlawanan itu tidak lagi dari satu faktor, tapi merambat ke yang lain, sehingga semakin besar perlawnan itu dan sukar dibendung. Karena, dengan jelas “perselingkuhan” antara penguasa pribumi degan kolonial terlihat oleh masyarakat yang tidak senang dengan keberadaan kolonial yang ka r itu. Berikut di bawah ini ringkasan Babad Darmayu:

Seorang penguasa di Bagelen memiliki putra; Raden Tanuwangsa, Raden Tanuyuda, Raden Wiralodra, Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa. Suatu hari Wiralodra tertidur di dekat pohon Kiara, setelah mengejar Kijang. Dalam tidurnya bermimpi bahwa tepi sungai tempat ia tertidur  bernama Sungai Cimanuk. Kemudian dibersihkannya tempat  itu  hingga  menjadi  perkampungan.  Yang  diberi  tugas mengurusi adalah padukuhan itu adalah asisten Wiralodra, Ki Tinggil.

Seorang kyai perempuan yang bernama Nyi Endang Darma Ayu bersama 40 santrinya juga turut serta dalam membangun padukuhan itu. Perempuan itu cantik jelita dan sakti mandraguna, bahkan dengan mudahnya ia mengalahkan Pangeran Guru, putra Syekh Tarja Trah Aryadillah.

Sebetulnya Nyi Endang Darma ingin dijadikan Wiralodra sebagai istri, namun harus melalui perkelahian terlebih dahulu, karena ia dapat mengalahkan saudara-saudara Wiralodra dengan gampang, termasuk Pangeran Guru. Namun, ia menolak. Nyi Endang Darma Ayu hanya berpesan untuk memberikan sebuah nama pada padukuhan Cimanuk menjadi nama perempuan  itu; Darma Ayu/  Darmayu,  sekarang Indramayu, dan seketika perempuan itu menghilang. Dalam waktu yang singkat Darmayu atau Indramayu didatangi banyak orang dari berbagai wilayah, sehingga menjadi ramai. Wiralodra memiliki empat anak; Sutamerta, Ayu Inten, Wirapati dan Drayantaka.

Suatu hari di Kuningan, Patih Waru Angkara dan Patih Anggasura sedang membicarakan Wiralodra yang telah membuat padukuhan di tepi sungai Cimanuk. Mereka berdua melaporkan ke Sultan setelah kalah  berkelahi  dengan  Wiralodra. Wiralodra  mengikutinya  dari belakang. Setelah sampai di Puser Bumi, ia melaporkan berita itu kepada Sultan yang sedang berkumpul dengan para pangeran. Pada saat itu Ki Tinggil sedang berbicara dengan kawan-kawannya; Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanasara Jagasara, Puspahidah Puspajaya, dan Ki Pulaha. Pangeran Kuningan menceritakan kejelekan Wiralodra.

Tapi, Wiralodra datang sendiri dan menceritakan kepada Sultan bahwa dirinya membuat Negara, dan Sultan mengizinkan. Setelah Wiralodra wafat lalu digantikan oleh putranya, Wirapati, menjadi dalem. Sewaktu Wirapati sedang dikunjungi oleh saudara-saudaranya, datang Werdinata dari Pulo Mas hendak melamar Nyi Ayu Inten. Karena tidak direstui maka terjadilah peperangan, dan Negara Darmayu kalah. Keluarga dalem Darmayu siap membrikan Ayu Inten untuk diperistri dengan catatam bahwa anak keturunannya harus dibantu oleh orang Pulau Mas itu. Werdinata menganggapnya sebagai siasat bagus, dan menyanggupi permintaannya itu. akhirnya mereka menikah, dan mendapatkan keturunan bernama Bagus Waringin Anom. Kemudian mereka pulang ke Pualu Mas bersama anak dan istrinya.

Suatu hari di Sumedang seorang mantri melaporkan kepada Dalem Sumedang, Ardi Kusuma, bahwa Sumedang akan dipaksa tunduk kepada orang Ciamis yang mengandalkan kekuatan para dedemit. Dalem Ciamis bernama Dalem Dipasanah. Dalem Sumedang juga adalah musuh Dalem Kuningan, Ki Gadik Sura, yang mengandalkan kekuatan manusia biasa. Dalem Ciamis bernama Dipasanah. Kemudian terjadi perang, dan Sumedang kalah. Sumedang kemudian memohon bantuan ke Darmayu.

Suatu hari Dalem Darmayu, Bagus Wirapati, sedang berkumpul dengan saudara-saudaranya. Tiba-tiba datang delegasi dari Sumedang untuk memohon bantuan kepada Darmayu. Dalem Darmayu lalu memanggil pasukan dari Pulo Mas. Akhirnya terjadi peperangan besar antara pasukan lelembut Ciamis dengan pasukan lelembut asal Pulo Mas. Sementara itu pasukan gabungan Ciamis-Kuningan melawan pasukan gabungan Sumedang-Darmayu. Pasukan Ciamis beserta para demitnya, dan juga Kuningan dapat dikalahkan. Oleh Dalem Sumedang, pimpinan Pulo Mas, Bagus Weringin Anom diberi putri Sumedang. Sementara Dalem Darmayu diberi desa Sokawanah dan Legok. Kemudian mereka pulang ke asalnya masing-masing.

Bagus Wirapati beristi empat, dan memiliki anak; Raden Kohi, Raden Timur, Raden Wirantaka, Raden Wiratmaja, Raden Wirantanu, Raden Astrasuta, Raksa Diwangsa, Raden Naya Wangsa, Raden Naya Sastra, Raden Puspa Taruna dan Sastra Naya. Setelah Wirapatih wafat, kedudukan Dalem diberikan kepada putra sulungnya, Radden Kohi yang memiliki putra; Raden Benggala Wiralodra, Raden Benggali Singalodra, Raden Singa Wijaya dan Raden Istri Winata. Setelah Raden Kohi lalu diganti Radena Benggala Wiralodra. Tapi, Radena Benggali Singalodra tidak terima dan ingin merebut jabatan itu, sehingga terjadi peperangan. Kemudian datang orang Batavia yang bernama Tuan Selutdriyan, dan memutuskan bahwa mereka berdua berkuasa masing-masing tiga tahun. Raden Benggali Singalodra menerimanya.

R. B. Wiralodra merasa sangat malu saat jabatannya digantikan oleh adiknya. Lalu, R.B Wiralodra bersama bersama putranya, Raden Kertawijaya, pergi bertapa di setiap candi dan makam leluhurnya. 145 Kemudian mereka berdua berkelana ke Cirebon. R. B. Wiralodra diangkat menjadi Kyai Syari’at sementara Kertawijaya diangkat menjadi Mantri Istana. Mereka berdua bertempat tinggal di Panjunan dalam waktu cukup lama. Di Panjunan, Kertawijaya menikah dengan putri Panjunan yang bernama Nyi Ratu Atma, kemudian ia pindah ke Kajaksan. Ia diberi tuga untuk menjaga perbatasan Darmayu bersama 40 pasukan.

Setelah R. B. Singalodra wafat lalu diganti oleh Raden Semangun Singalodraka. Pada masa itu banyak orang membuat kerusuhan. Patih Astrasuta dan Patih Purwadarnata melaporkan kepada Dalem perihal hadrinya para pemberontak. Akhirnya terjadilah perang antara pemberontak dengan pasukan yang dipimpin oleh Patih Astrasuta dan Patih Purwadarnata, dan para itu kalah. Pemberontakan itu dipimpin oleh Bagus Urang, Bagus Rangin dan Bagus Persanda. Para pemimpin memberikan peringatan kepada Orang-orang Cina agar tidak campur tangan. Orang-orang Cina menyetujuinya, yang penting harta bendanya tidak dirusak. Markas para pemberontak itu berada di desa Pamayahan.

Dalem Darmayu mengutus Demang Wangsanaya untuk membawa surat ke Batavia; memberitahukan bahwa Negara Darmayu sedang dilanda kerusuhan. Kemudian penguasa Batavia mengirim 300 tentara yang dipimpin oleh dua Tuan Kapten; Letnan I dan Letnan II. Mereka berangkat ke Darmayu bersama Ki Patih Raden Kartawijaya untuk berperang, dan pemberontak lari. Salah seorang pemimpin pemberontakan bernama Nyi Ciliwidara menghilang karena terkena tiwikrama R. Kartawijaya. Lalu, R. Kartawijaya kembali ke Darmayu untuk melaporkan kejadian itu, dan itu pulang ke Cirebon. Sementara itu, para berandal pulang kembali ke markasnya, di Pamayahan.

Di tempat lain, para berandal juga dihadang orang Cina Celeng dan Cina Baru; Kai Beng dan Lai Seng. Orang-orang Cina menyebar untuk menangkap para berandal. Namun, sebelum diburu, para berandal sudah mengetahuinya. Oleh karenanya di atas jembatan, di sungai Bantar Jati, mereka hendak menjebak para orang-orang yang hendak menyerang. Namun, jembatan itu agaknya sudah diketahui akan menjebak, sehingga tidak ada yang berani melewatinya, kecuali Patih Astrasuta. Bersama para pengiringnya yang mengenakan payung, setelah sampai di tengah, jembatan itu dihancurkan. Lalu tejadilah pengeroyokan, dan akhirnya Patih Astrasuta ditusuk dengan tombak oleh Kyai Serit. Tumbak itu bernama Si Wedang. Oleh karenanya, tempat dimakamkannya Patih Astrasuta sekarang dinamakan Ki Buyut Rengas Payung.

Ketika Ki Gedeng Pecung dan Kyai Kreti beserta anak-anaknya; Ki Grudug, Ki Gintung, Ki Sindang Laya, Ki Jaka Patuwakan (memiliki pusaka Penjalin Wulung) dan Jigjakreti sedang berkumpul datang Ki Dhulang Sere membawa surat tantangan perang. Perihal tersebut diketahui oleh Kanjeng Raja Kumpeni di Batavia. Lalu ia lari karena dikeroyok dan lalu melaporkan kejadian itu ke Bagusan. Kemudian menyerang dan berperang; Ki Leja dan Ki Sene diikat tak berkutik. Sementara Ki Bagus Rangin berkelahi melawan Ki Grudug dan Ki Jigjakreti, namun keduanya kalah. Di Pagaden Baru, Ki Wirosetro membantu perang Ki Pecung dengan membawa empat mantri; Surakreti, Jaya Megala, Jija Karya dan Jaya Kreti. Sewaktu Ki Wirosetro bertiwikrama, Ki Bagus Rangin menghilang bersama kawan-kawannya. Dua tawanan mantri ditangkap dan dibawa ke Batavia. Setelah melewati sungai Citarum keduanya melompat ke sungai dan menghilang.

Raden Kartawijaya dan Raden Welang melaporkan kejadian itu ke Dalem Darmayu. Mereka berdua bertemu Komandan di Palimanan. Tapi Raden Kartawijaya dan Raden Welang memberontak Komandan, karena tidak diperbolehkan melihat sumur, sehingga banyak tentara yang tewas. Kedua orang itu pulang. Sementara Komandan mengirim surat ke Batavia. Lalu, Jenderal mengirimkan 40 tentara ke Cirebon untuk menangkap dua orang itu. Kartawijaya dan Raden Welang dibawa ke Batavia dengan membawa bekali dua keris; Si Klewang dan Si Dumung. Setelah sampai di Batavia mereka berdua diadili dan dihukum tembak, tapi mereka mengamuk, sehingga tentara Belanda banyak yang tewas. Kemudian mereka ditembak dengan peluru intan, dan gugur. Kemudian orang Batavia menyerang ke Cirebon.

Sultan Matangaji berkumpul bersama Pangera Surya Kusuma, Pangeran Marta Kusuma, Pangeran Pekik, Pangeran Logawa dan Pangeran Penghulu Dul Kasim menyerang orang Batavia. Orang Batavia kalah dan lari ke Mataram. Waktu itu Sultan Mataram sedang berkumpul dengan kawan-kawannya; Pangeran Purobaya, Pangeran Nata Bumi, Pangeran Bumi Nata, Pangeran Pakualaman dan Pangeran Pakunagara. Kompeni datang meminta bantuan ke Mataram.

Mataram ia siap membantunya, dengan membuat kebijakan bahwa luas kekuasaan Cirebon dibatasi hanya seluas 1000 km persegi. Sejak saat itu Dalem Darmayu dihilangkan, tidak lagi ada dalem sejak tahun 1743.4  Kebijakan itu diterima oleh Dalem Darmayu. Setelah Raden Semangun wafat lalu diganti oleh putranya, yaitu Raden Krestal yang memiliki enam anak; Raden Marngali, Ki Wiradibrata, Nyi Empuh, Nyi Pungsi, Nyi Otama dan Bagus Kalib (Demang Yogya) yang djuluki Tambak Emas Bangkir.

Bagus Serit bersama putrinya, Nyi Ayu Sumenep, Bagus Rangin, Bagus Kandar, Bagus Leja, Bagus Urang lari ke Barat. Mereka memasuki hutan Sinang, Cikole, Legok Siu, Dulang Sontak, menyeberangi sungai Cilanang, Cibinuwang, Cipedang, Cilege, Cipancu, Ciwidara, Koceyak, Parung Balung, hingga meyebrangi Kali Cipunagara dan Cigadung.

Setelah sampai di tempat yang dituju, Ki Bagus Serit membuat pondok bersama kawan-kawannya. Para Bagus itu gemar berburu. Ki Bagus Leja suka mencari ikan di Rawa Teja. Tempat Ki Bagus Rangin duduk di Jati lebat disebut Jati Lima. Sementara tempat berkumpulnya Kebagusan di sungai Cigadung dinamakan sungai Ciagur. Tempat mereka melewati perbatasan Pagaden, distrik Pamanukan. Di sana ia bermukim selama 2 tahun, dan banyak orang yang menjadi santri mengaji ilmu kesaktian atau kejayaan di tempat itu. karena kekuatan sudah terkumpul, mereka berencana menaklukan Ki Gedeng Picung. Para Bagus itu membuat markas di Tegal Slawi, perbatasan Subang, dan ia menyuruh mengirimkan surat tantangan perang. 

Baca Juga

Tipologi Perlawanan Pribumi pada* Awal Abad* ke-19*

Di Jawa tekanan Eropa mulai menguat pada* dasawarsa awal abad 19 dengan politik radikal dari Herman Willem Deandels dan   omas Stamford Raffl es. Tidak heran jika jaringan-jaringan Asia tampak lebih dini dibandingkan tempat lain. Blokade atas Jawa selama tiga tahun mengucilkan pulau itu dan menutup jaringan disekitarnya (D.ombaard, 2000:79). Di bawah kepemimpinan kedua gubernur Jendral itu memberikan dampak signi kan bagi penduduk, tidak hanya  sik, tapi juga psikologis.

Deandels  diutus  oleh  Raja  Belanda,  Louis  Napoleon,  adik Napoleon Bonaparte ke Batavia menjadi Gubernur Jendral (1808-1811) dalam rangka membendung kekuatan Inggris. Pada* masa* itu* Belanda* dibawah kekuasaan Pernacis (sejak tahun* 1795*). Deandels* adalah* pengagum prinsip-prinsip revolusioner Perancis. Di Jawa Deandels membawa semangat pembaruan yang menyatukannya dengan metode-metode kediktatoran, yang sebenarnya hanya sedikit memberikan perubahan, sebaliknya justru menuai pertentangan.

Ia juga pernah memberantas ketidake sienan, praktik deviatif, dan korupsi yang tumbuh dalam administrasi Eropa, namun tidak tidak ada perubahan yang signi kan. Bahkan, Deandels memiliki perasaan tidak suka terhadap penguasa feodal pribumi, pengusa Jawa atau bupati-bupati. Menurut Deandels para penguasa pribumi adalah pegawai administrasi Eropa, dan ia juga mengurangi penghasilan para penguasa lokal (Ricklefs, 2005:245).

Deandels diangakat menjadi Gubernur Jenderal di Batavia pada 1 Januari 1808, menggantikan A.J Wiese. Proyek garapan Dendels yang paling terkenal adalah pembangunan perpanjangan jalan dari Anyer ke Bogor melewati Batavia hingga ke Panarukan, ujung timur Jawa Timur kurang lebih sepanjang 1000km. Tujuan dari pembangunan itu adalah untuk kelancaran hubungan pemerintah pusat dengan daerah melalui surat pos atau yang popular kita kenal Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Di Jawa Barat, pembangunan itu dimulai pada tahun 1808; Anyer, Serang, Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Palimanan, Cirebon. Yang* bertanggung* jawab* terhadap* proyek* tersebut* adalah* bupati* dan* Sultan* yang* wilayahnya* dilewati* Jalan Raya Pos itu. Para penguasa pribumi yang* bertanggung* jawab* untuk urusan sarana, perlengakapan, kereta pos, kuda, stasiun kereta pos, tempat tinggal, dll. Deandels menerapkan sistem pemerintahan yang sentralistis dan menghendaki perintah secara langsung tanpa melalui tangan bupati dan Sultan (Sobana. H dan Tawalinuddin. H, 2011:131-133).

Sebetulnya, masa pemerintahan Belanda tidak menghendaki pergantian bupati atau sultan secara turun temurun, tapi dengan cara diangkat atau ditunjuk. Pribumi pertama yang menjadi bupati Cirebon pertama adalah R. Simuk atau Muchamad (1800-1809). Pada 13 Maret 1809 gubrenur Jenderal memecah Cirebon menjadi tiga daerah, dan kedudukan sultan sama dengan bupati. Indramayu adalah salah satu wilayah administratif Karesidenan Cirebon bagian utara, yang pada tahun 1809-1815 dikepalai oleh sultan panembahan kacirebonan (Sobana. H dan Tawalinuddin. H, 2011:134). Di Indramayu, sejumlah penduduk desa Pamayahan, Bantarjati, Celeng, dan Cikedung melakukan perlawanan* atas* Belanda*. Di Desa* Cikedung*, perlawanan* terhadap* kolonialisme* berlangsung* cukup* lama* (1806*-1812*), bahkan* 149* sebelumnya* sudah* ada* sikap* anti* kolonial*.

Perlawaan semakin melebar ke sjumlah tempat dengan motif perlawanan yang* beragam*. Raden* Aria* Anggadikusuma* misalnya*, melakukan* perlawanan* di Jawa* Barat* karena* tidak* mendapatkan warisan kekuasaan dari ayahnya. Ia berkeyakinan bahwa wilayah kekuasaan yang pernah digenggam oleh ayahnya akan diturunkan ke dirinya, dan jabatan yang ia pegang juga akan diwariskan ke anak-anaknya, menyerupai raja. Kebijakan Hindia Belanda ternyata tidak mempraktekan asumsi Patih Polisi itu, sehingga permasalahan menjalar kemana-mana, yang pada akhirnya melawan pemerintahan kolonial, meskipun jabatan yang ia miliki sebetulnya pemberian dari pihak Belanda (Ekadjati, dkk. 1990:121).

Jika di Banten pemicu terjadinya pemberontakan karena terjadi banyak kasus korupsi di tubuh golongan bangsawan yang diangakat sebagai pejabat pemerintahan, kon ik antara kelompok bangsawan lama dan pemerintahan kolonial, serta pengawasan yang ketat dari pihak Belanda yang mengakibatkan elit agama dan bangsawan semakin tersisih (Sartono Kartodirjo, 1984: 35,77 dan 78) maka di Indramayu disebabkan karena pambuangan raja Kanoman dan peniadaan Bupati. Namun, seiring waktu dengan adanya dominasi pemerintah kolonial, perlawanan* itu* tidak* lagi* disebabkan* karena* dua* hal* tersebut*, melainkan* kompleksitas* permasalahan yang* semakin* besar dan merugikan pihak pribumi, seperti penjualan tanah penduduk, dan tanam paksa, kerja rodi di banten, dicambuk dan disiksa, hingga mati, dimakan binatang buas, dan ada yang mati kelaparan (Dasuki, dkk., 1976:199).

Sebelum* Perang* Padri* (1803-1838) di Sumatera* Barat* dan Perang* Diponegoro* (1825-1830) meletus*, di* Indramayu* pernah terjadi perlawanan* yang mengarah pada delegitimasi pemerintahan Belanda, karena mengasingkan Raja Kanoman Ambon pada* tahun 1802, sehingga pada tahun* yang sama* Bagus Rangin melakukan perlawanan* beserta sejumlah pasukannya terhadap* pihak kolonial. Benih perlawanan itu mulai timbul sejak Sultan Anom wafat (1798), dan Pangeran Surianegara tidak dinobatkan sebagai raja, tapi Belanda* mengangkat Pangeran* Surantaka yang* tidak* disukai* masyarakat* (Ekadjati, dkk. 1990:98).

Meskipun hak-hak Raja Kanoman pada masa Deandels telah dispulihkan dan dikembalikan ke Cirebon namun ia menolak bekerja sama dengan Belanda, sehingga dibuang lagi pada tahun 1810. Sementara itu Belanda membagi Cirebon menjadi dua, dimana keduanya harus patuh pada kekuasaan residen-residen Belanda. Hal demikian tentu saja menimbulkan perlawananan, bahkan hingga masa pemerintahan Raffles perlawanan penduduk secara berkelompok dengan menggunakan senjata terus berlanjut sampai pada tahun 1811-1812, sehingga ia menghapus dua kesultanan itu untuk selamanya, masing-masing tahun 1813 dan 1815. Raffles hanya memberi pensiun kepada masing-masing pemegang* jabatan* yang* sah* dan menunjuk bupati-bupati untuk* menggantikan mereka* (D. Lombard, 80).5

Sejak Belanda berhasil meruntuhkan dua kesultanan pesisir; kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, pada akhir abad 18, kondisi Cirebon sangat* rapuh, khususnya setelah* muncul* kebijakan yang* terkait* dengan* perkebunan kopi dan tanah-tanah partikelir atau swasta.6 Penduduk Banten pun bersikap sama, menampakkan rasa tidak senangnya terhadap Belanda, terutama setelah Gubernur Jenderal Deandels berhasil manklukan Banten dan mengatakan di atas tahta “mulai sekarang akulah Sultan Banten”.7

Baca Juga

Perlawanan Penduduk Indramayu terhadap* Kolonialisme* (1800-1818)

Perlawanan* yang* dilakukan oleh penduduk Indramayu pada* masa* Deandels dengan berbagai macam cara, termasuk dengan peperangan* antara masyarakat* dengan para* pasukan* militer* Batavia*. Kelompok anti kolonial itu juga pernah mengirim surat pernyataan tantangan perang* terhadap* kelompok* yang dianggap* menghalanginya. Perlawanan yang* bersifat* sporadis* itu dipimpin oleh Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit, Ki Bagus Urang dan Bagus Kandar. Mereka semua tercatat dalam sumber kolonial sebagai pemberontak (Van Der Kemp, 1978).

Adanya kebijakan pengangkatan kembali bupati Indramayu oleh pihak kolonial juga tidak dapat menghentikan aksi perlawanan. Sebaliknya, perlawanan justru semakin keras, yang tidak hanya ditujukan kepada pemerintah kolonial melainkan semua lembaga yang berkoalisi dengan Belanda, termasuk etnis Tionghoa. Masa Raffles juga tidak berbeda dengan Deandels, sehingga tetap menimbulkan perlawanan dimana-mana. Informasi tentang dinamika politik masa itu juga tercatat dengan baik dalam naskah Babad Darmayu koleksi Opan Safari dan naskah Babad Darmayu koleksi Museum Sribaduga. Kendatipun  aksi  pemberontak  pernah  didukung  oleh  Sultan Cirebon, sikap itu lebih dikarenakan tidak menguntungkan pribadi atau keluarga raja, seperti kebijakan pemberian gaji oleh Raffles atas raja-raja kesultanan Kanoman, Kasepuahn, dan Kacerbonan. Kepelikan masalah yang dihadapi oleh pemimpin pribumi itu yang menyebabakan perlawanan tak kunjung usai. Bahkan dalam banyak sumber perlawanan* di Indramayu* menginspirasi daerah-daerah lain.

Di dalam naskah Babad Darmayu nama pemimpin disebut sebagai kyai, seperti Kyai Bagus Urang, Kyai Bagus Kandar, Kyai Bagus Leja dan Kyai Bagus Serit. Timbulnya perlawanan* di Indramayu* ditenggarai terjadi pada masa kekuasaan* Raden* Benggali* Wiralodra, dan berlanjut hingga* masa Raden Benggali Singalodra dan Raden Semangun. pada masa pemerintahan Raden Semangun,  Nyi Resik  atau Nyi Jaya pernah melaporkan bahwa di Bantarjati ada 1000 pemberontak bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Bagus Rangin. Bupati memerintahkan Patih Astrasuta untuk membawa pasukan yang lebih besar dan menangkap pimpinan pemberontakan. Para pemberontak berasal dari daerah Banten yang keberadaannya tersebar di sejumlah tempat, dan suatu saat bisa menyerang, oleh karenanya Patih Astrasuta melarang Raden Semangun turut ikut dalam penggerebegan di Bantarjati.8
Pada  saat  melakukan  penyerangan  terhadap  pemberontak, jumlah pasukan dari Indramayu 1200. Namun penyerangan itu pasukan Indramayu megalami kekalahan, dan Patih Astrasuta gugur, jenazahnya dimakamkan di Jatitujuh. Kemudian Bupati Indramayu meminata bantuan kepada Tuan Postur di Batavia. Di samping berhadapan dengan penguasa pribumi dan Belanda, pemberontak juga berhadapan dengan Etnis Tionghoa di Celeng; Kwee Beng, Eng San, Eng Jin, Eng Lie dan Tiang Lie. Bagus Urang atau Surapersanda adalah salah seorang pemimpin pemberontakan yang berhubungan baik dengan orang-orang Cina itu, Oleh karenanya diingatkan untuk tidak  melakukan  pemberontakan  terhadap  Indramayu.  sewaktu meninggal Bagus Urang dimakamkan di desa Pamayahan, tempat tinggal para pemberontak.

Perlawanan para pemberontak semakian keras setelah Bagus Rangin dikelabui akan diangkat menjadi Demang dan kelak akan menjadi bupati setelah masa jabatan Raden Benggali Wiralodra sebagai bupati selama tiga tahun telah selesai. Bagus Rangin ditipu dengan cara membuat pesta penobatan, dan pada saat pesta berlangsung pasukan Bagus Rangin ditangkap. Kejadian itu bertempat di Pamayahan, Indramayu. Bagus Rangin melarikan diri ke Pegaden. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Bagus Rangin baru kemudian ditangkap pada pemerintahan Inggris (1813) dan dihukum mati di Betawi. Dalam menumpas pemberontakan, pemerintah kolonial mengalami kerugaian besar dan itu juga karena perminataan bupati, kerugian kerugian itu mencapai f. 1.830. Karena bupati Indramayu tidak mampu membayar maka menyerahkan daerahnya kepada kepada pihak yang telah membantu. Itulah awal partikelir di Indramayu barasal yang kemudian diperjualbelikan kepada swasta (Dasuki, dkk., 1976:207). Bahkan pada masa Raffl es yang telah mengurangi kekuasaan raja-raja, sultan, dan bupati-bupati, dahulu di Indramayu sempat terjadi perbudakan. Sebagaimana dijelaskan di atas, pemberontakan dan huru-hara diberbagai tempat yang dipimpin oleh para Kebagusan; Bagus Rangin, Bagus Serit, Bagus Urang, Bagus Kandar dan Bagus Leja, di dalam naskah Babad Darmayu tidak disebutkan. Namun, dalam naskah Babad Darmayu koleksi Museum Sri Baduga, pada bagian pupuh Pangkur (Ruhaliah, 2003) disebutkan bahwa motif perlawanan itu hendak merebut kekuasaan atau kudeta atas Raden Semangun.

Berbagai macam cara yang dilakukan oleh para pemberontak untuk menduduki pendopo Indramayu titanggapi secara militer oleh aparatus pemerintah. Mereka bergerak secara sporadis di sejumlah desa. Setiap kali mengunjungi desa-desa mereka melakukan mobilisasi masa dan menyalakan api semangat perlawanan, tidak hanya terhadap bupati Indramayu tapi Karesidenan Cirebon dan pemerintah Belanda. Dalam aksinya, para pemberontak selalu memberikan senjata lengkap dan ilmu kanuragan bagi para pengikut, termasuk strategi perang. Pada masa pemerintaha Albertus H. Wiese (1805-1808) misalnya, salah sebuah desa di Indramayau yaitu Desa Bantarjati diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Bupati Indramayu dan Patih Astrasuta setelah diketahui bahwa penduduk desa itu hendak memberontak pemerintah. Namun, para pemberontak itu sudah mengetahuinya, sehingga mereka hijrah ke Cikedung dengan membawa sedikitnya 500 pasukan bersenjata lengkap yang diambil dari Desa Bantar Jati. Pemberontakan itu dipimpin oleh Bagus Rangin, Bagus Serit, Bagus, Kondar, Bagus Jari, dan Bagus Jabin.9

Beberapa waktu kemudian, Desa Bantar Jati terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dan pasukan Astrasuta, yang mengakibatkan banyak kematian di kedua belah pihak. Astrasuta tewas terkena panah Ki Bagus Serit, karena yang menjadi titik konsentrasi penyerangan hanya patihnya, bukan pasukannya. Lalu, Pasukan Bagus Rangin masuk ke daerah Kedondong, Susukan Cirebon. Tapi disana ia dihadang oleh tentara Belanda dan pasukan Cirebon. Karena kekuatan yang tidak seimbang, tentara Belanda dengan senjata api sehingga pasukan Bagus Rangin kalah. Dengan tetap semangat, kemudian ia memasuki Desa Kaliwedi, Arjawinangun, Cirebon mengajak penduduk setempat untuk memberontak Cirebon dan Kompeni. Akhirnya pasukan Bagus Rangin dikepung oleh tentara kompeni dan Cirebon dengan senjata lengkap, sehingga banyak yang tewas. Di Indramayu juga tentara sudah siap menyambut pasukan Bagus Rangin untuk membalaskan dendam kematian patihnya. Pemberontakan berlanjut di Desa Celeng, Lohbener, Indramayu yang sudah dikuasai oleh pasukan Bagus Rangin. Bersama Bagus Urang, Bagus Rangin hendak menyerang Indramayu, tapi dihalangi oleh Cina Celeng (etnis Tionghoa), sehingga menimbulkan perkelahian sengit.10

Perlawanan para pemberontak tidak lagi mendapatkan dukungan dari penduduk desa setelah adanya aksi brutal dan penjarahan di daerah Pamayahan. Penjarahan itu dilakukan hampir setiap hari, banyak orang menderita, yang memaksa bupati meminta bantuan pada Deandels yang bertempat tinggal di Batavia pada tahun 1808.11 Berita pengiriman surat dari Bupati Indramayu ke Batavia diduga pada masa pemerintahan Raden Semangun.

Markas pasukan Indramayu juga diserang oleh para pemberontak yang berjumlah sekitar 3000 dibawah pimpinan Ki Bagus Rangin. Namun, aksi para pemberontak di desa Lobener mendapat perlawanan dari orang Cina (Etnis Tionghoa), dan banyak yang melarikan diri. Kemudian seorang pemimpin pemberontakan, Surapersanda, melakukan negosiasi dengan orang Cina agar mereka dibiarkan melakukan aksinya.

Baca Juga

Percobaan Kudeta atas Penguasa Pribumi sebagai Sikap Anti Kolonialisme

Pemberontakan yang dilakukan oleh penduduk Indramayu adalah sikap anti kolonialisme pribumi. Perlawanan dimulai pada masa pemerintahan Raden Benggala Wiralodra, berlanjut pada Raden Benggali Singalodra, hingga masa Raden Semangun Singalodraka. Pemicu pemberontakan diakibatkan oleh beberapa hal. Pada awalnya karena mereka kecewa dengan pihak Belanda yang membuang Raja Kanoman ke Ambon sehingga pada tahun 1805 rakyat melakukan perjalanan untuk menuntut supaya raja Kanoman di bebaskan (Edi 155 S. Ekadjati [dkk.], 1990:100-101). Di samping itu juga karena pihak kolonial menghilangkan jabatan bupati Indramayu setelah terjadi perselisihan di internal keluarga bupati. Perlawanan semakin besar ketika banyak tanah-tanah pribumi diperjualbelikan oleh pihak kolonial kepada orang-orang Cina Celeng serta adanya prakek perbudakan di sejumlah tempat. Hal seperti itu jelas berlawan dengan prinsip Islam. Sebagai Sebagai seorang ulama yang memimpin perlawanan atas praktek menyimpang itu, Kyai Bagus Rangin beserta ribuan pengikutnya menunjukkan sikap antipatinya pada penguasa pribumi atau kolonial.

Perlawanan tidak hanya terhadap Belanda atau Inggris, melainkan seluruh kelompok, termasuk bupati Indramayu, yang dianggap sebagi pendukung kebijakan kolonial. Akan tetapi, dalam perjalanannya perjuangan para kebagusan yang menggunakan prinsip-prinsip keagamaan (Islam) keluar dari jalur awal. Mereka melakukan perusakan di sejumlah desa, karena batas antara kelompok atau individu yang mendukung pemberontak dengan yang mendukung kolonial semakin bias dan sulit dibedakan, sehingga mereka yang tergabung dalam aksi perlawanan anti kolonialisme sebaliknya justru mendapat antipati dari berbagai pihak; pemerintahan Belanda, Inggris, Karesidenan Cirebon, bupati Indramayu dan orang-orang Cina. Karena himpitan begitu kuat dari berbagai arah akhirnya pemberontakan dapat dipukul rata, dan sejumlan pemimpin banyak yang melarikan diri ke daerah Karawang, tidak lagi di Indramayu.

Bagus Rangin adalah putra seorang ulama besar yang melakukan perlawanan atas kebijakan yang tidak memihak pada rakyat. Pemimpin pemberontakan lainnya adalah Bagus Serit (putra Bagus Rangin), Bagus Kandar, Bagus Urang dan Bagus Leja. Cinta tanah air mereka tumbuh setelah beberapa tanah pedesaan dijual kepada orang Cina. Hak-hak mereka sebagai makhluk merdeka sebagai umat Islam yang terbebas dari praktek perbudakan justru semakin banyak terjadi dimana-mana. Mereka menganggap bahwa orang Belanda, Inggris dan Cina sebagai ka r yang haris diperangi. Tidak heran jika pemimpin pemberontak dengan mudahnya merekrut penduduk melakukan perlawanan, karena terlalu banyaknya praktek deviatif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial ataupun pribumi sebagai kepanjangan tangan dari kebijakan kolonial.

Langkah awal  yang dilakukan  oleh para pemberontak adalah melakukan kudeta terhadap penguasa pribumi, karena mereka menjadi kepanjangan tangan dari pemerintahan yang ka r itu, sebagaimana disebutkan dalam naskah Babad Darmayu koleksi Museum Sri Baduga. Terhadap orang Cina, hubungan mereka juga tidak harmonis, karena mereka yang menyewa tanah desa memeperlakukan penduduk terlalu kasar, seperti adanya pajak kepala, pajak tanah, pajak jembatan, dan lain-lain.

Penindasan orang Cina dan pemerintah pribumi atas rakyat serta adanya perseteruan mengenai mahkota Cirebon termasuk penyebab dari pemberontakan yang berlangsung lama. Pemberontakan itu dimulai pada tahun 1802. Kandanghaur (sekarang masuk wilayah Indramayu) adalah salah satu wilayah pada masa itu yang melakukan perlawanan, dan yang menjadi sasaran adalah orang Cina, daerah lainnya adalah Celeng dan Lohbener, dimana orang-orang Cina banyak yang diusir. (Edi S. Ekadjati [dkk.], 1990:99).

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Bagus Rangin adalah penerus peerlawanan Pangeran Suriawiajaya (Raja Kanoman). Ia berasal dari Demak, Blandong, Raja Galuh, sekarang daerah Majalengka di kaki gunung Ciremai. Ia dilahirkan pada tahun 1761, putra Sentayem, Cucu Buyut Waridah, dan keturunan Embah Buyut Sambeng. Kakak Bagus Rangin bernama Buyut Rangin, sementara adiknya bernama Buyut Salimar dan Ki Bagus Serit. Ayahnya adalaha seorang kyai yang taat beragama dan memiliki banyak santri, diantaranya putranya sendiri, Bagus Rangin. Bagus Rangin memiliki sifat pemberani dan sanggup berperang yang didukung oleh banyak pengikutnya (Edi S. Ekadjati [dkk.], 1990:103).

Menurut F. W Stapel, pada tahun 1806, jumlah pemberontakan yang bersenjata lengkap mencapai 40 ribu, 280-300 diantaranya orang-orang dibawah asuhan Bagus Rangin yang sudah terlatih. Daerah-daerah perlawanannya adalah; Subang, Karawang, Sumedang, Indramayu, Majalengka, Cirebon dan Kuningan. Senjata yang mereka gunakan adalah tumbak, pedang, bedog, keris, senapan, dan meriam (Edi S. Ekadjati [dkk.], 1990:105-6). Masa pemerintahan Gubernur Jendral Wiese, Deandels dan Raffl es mencoba menghentikan perlawanan itu, namun seringkali mengalami kegagalan. Perlawanan kembali memanas setelah Daendels pada 1808 menghilangkan pemilikan tanah Sultan, serta kebijakan Raffles yang memungut pajak terhadap tanah pusaka dalam bentuk sewa tanah. Mereka yang memiliki tanah pusaka tersebut mendapat ganti rugi. Kebijakan seperti ini ternyata tidak memberikan kepuasan   terhadap  anggota kerabat dan  pejabat-pejabat Sultan, karena banyak dikorupsi oleh para pamongpraja (Sartono Kartodirjo, 1984:61).

Hasrat menguasai mulai tumbuh setelah terjadi kon ik di intern keluarga Bupati Indramayu antara Raden Benggala Wiralodra dan Raden Benggali Singalodra (awal abad 19). Perebutan kekuasaan yang terjadi di keluarga bupati selesai setelah utusan dari Batavia yang bernama Tuan Selutdriyan. Ia memutuskan bahwa mereka berdua masing-masing menduduki jabatan Bupati selama 3 tahun. Setelah itu tidak ada keterangan lebih detail mengenai penggantinya. Pada masa itu, para pemberontak belum tampak. Namun, setelah Raden Semangun Singalodraka diangkat menjadi Bupati Indramayu pemberontakan semakin besar.

Bagi para pemberontak, adanya kon ik di tengah keluarga bupati adalah kesempatan untuk merebut kekuasaan. Bagus Rangin, Bagus Urang, Bagus Serit, Bagus Kandar dan Bagus Leja adalah tokoh dibalik perebutan kekuasaan itu. Oleh pemerintah pribumi, Belanda, dan orang-orang etnis Cina di desa Celeng (Indramayu) mereka dicap sebagai berandal yang gemar membuat kerusuhan dan keresahan di masyarakat. Sebaliknya, oleh pengikutnya mereka justru dianggap sebagai kyai, sebagaimana disebut di atas.

Bagus Rangin adalah ayah Bagus Kandar, yang pada tahun 1816 mereka berdua memegang peranan penting dalam pemberontakan di Cirebon. Ia sering mengajak sejumlah kepala desa untuk memberontak, dan hasilnya tidak sia-sia, banyak yang ikut serta. Begitu pula dengan Bagus Serit, seorang pemimpin pemberontakan yang berhasil merekrut 50 kader bersenjata lengkap di desa Keraton Babadan dalam waktu singkat. Ia juga pernah menyampaikan surat anjuran menghasut dan memberontak kepada tiga sultan Cirebon yang berisi agar bergabung untuk membebaskan Cirebon dari tangan kolonial. Namun surat itu diberikan oleh Sultan Sepuh ke Residen Servatius (Van Der Kemp, 1979:15 dan 44-45).

Di dalam naskah Babad Darmayu koleksi Opan Safari,12 Cirebon, jumlah  pengikut  berandal  700  orang,  sementara  naskah  Babad Darmayu koleksi Museum Sri Baduga berjumlah 7000 orang. Jumlah yang relative besar pada masa itu, sehingga mereka berani melawan siapapun yang mencoba menghalanginya. Setiap hari datang 30 orang untuk bergabung. Para berandal itu gemar merampok, merusak, memperkosa, mencuri, dll. Kerusuhan semakin besar dan sporadis, sehingga sulit dibendung.

Pada tahun 1808 Raden Semangun mengirim surat ke Deandels untuk meminta bantuan. Di dalam naskah itu, Deandels digambarkan sebagai orang yang gagah, kuat, tinggi, besar, dan suka menolong setiap daerah yang dilanda kesusahan. Bupati Indramayu memanggilnya Gusti Kanjeng Raja Kumpeni.13 Lalu, datang 300 tentara dari Batavia, dan bergabung dengan pasukan dari Indramayu. Beberapa waktu kemudian orang-orang Cina Celeng turut serta dan bergabung untuk memberantas para berandal. Tekad orang-orang Cina sangat kuat dan berani mati melawan para pengikut kebagusan atau Berandal meskipun jumlah pasukannya hanya 20 orang.14 Mereka yag disebut dalam naskah sebagai orang Cina memiliki posisi tawar, baik oleh bupati maupun para berandal. Tidak heran jika Bagus Rangin dan Bagus Urang memperingatkan dengan keras terhadap pimpinan Cina; Kai Beng dan Lai Seng untuk tidak ikut campur. Namun orang Cina itu justru ikut serta memburu dan menangkap setelah melihat dua kekuatan malakukan aliansi (tentara dari Batavia dengan pasukan dari Indramayu) melawan berandal, sehingga gerombolan berandal merusak dan menjarah harta benda orang-orang Cina. Gabungan tiga kekuatan itu akhirnya berhasil menyingkirkan para berandal. Dengan berbagai macam cara mereka terus diburu, dibunuh dan dimusnahkan. Para berandal melarikan diri ke hutan belanta, melewati sungai besar, dan desa-desa, hingga ke wilayah Subang dan Karawang.

Perlawanan para berandal berlangsung cukup lama, dari awal abad 19 sampai tahun 1818. Sebagaimana disebutkan di atas, pada awalnya aksi para berandal hanya ingin menduduki kursi bupati. Keadaan berubah menjadi anarkis setelah jumlah pengikut bertambah banyak. Mereka merampok orang-orang Cina, membakar perumahan penduduk, memperkosa, membunuh para pejabat desa. Akibat dari aksi itu mereka mendapatkan antipati dari berbagai pihak. Potret dan jejak kejahatan mereka diabadikan dalam naskah Babad Darmayu. Tidak heran jika wujud tokoh Bagus Rangin dalam seni pertunjukan Sandiwara sebagai buta jahat.

Meski tidak ada keterangan dalam naskah tentang penyebab perlawanan itu, namun dapat diperkirakan bahwa penyebabnya adalah kebijakan sewa tanah murah dan tanam paksa di masa pemerintahan Deandles, sebagaimana tertulis dalam sumber-sumber sejarah. 159 Kebijakan Deandles itu, selain dari tanam paksa juga pembuatan proyek besar jalan raya dari Anyer ke Panarukan sepanjang lebih dari 1000 km. Adapun masa pemerintahan Raffles, selain melanjutkan kebijakan tanam paksa, juga penghilangan sistem kerajaan Cirebon. Pembahasan tentang Cirebon menarik dikemukakan, karena pada masa Raffl es, Indramayu adalah bagian dari Cirebon. Masa itu, Jawa tidak lagi dibawah kekuasaan Belanda melainkan Inggeris, dan Raffles sebagai gubernur jendrala yang memiliki wewenang atas Jawa, termasuk Cirebon. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Raffl es menuai respon berupa perlawanan dari pedalaman dan masyarakat pesisir Indramayu.

Dari uraian di atas, jelas bahwa motif perlawanan disebabakan karena kompleksitas permasalahan yang semakin besar dan berimplikasi langsung ke sejumlah elemen masyarakat, khususnya mereka yang jauh dari lingkaran kekuasaan. Para pemberontak meyakini bahwa perubahan hanya dengan merebut “kursi” bupati, yang pada masa itu jelas sebagai penyambung kebijakan kolonial Belanda ataupun Inggeris. Dengan kalimat lain dibawah perintah bupati Indramayu, tak ubahnya dengan model pemerintahan yang berpusat di Batavia, sebuah sistem pemerintahan yang ka r.

Kesimpulan

Kudeta atas Raden Semangun, bupati Indramayu, adalah wujud anti kolonial penduduk Indramayu. Percobaan kudeta di Indramayu dilakukan berkali-kali dengan berbagai macam cara. Dengan menggunakan strategi mobilisasi masa di kelas bawah para pemberontak yang dipimpin oleh Ki Bagus Rangin, Bagus Urang, Bagus Serit, Bagus Kandar dan Bagus Leja melakukan kudeta militer. Mobilisasi masa yang dipimpin oleh kebagusan itu berjalan tanpa ada kendala, kecuali dari etnis Tionghoa, hal ini menandakan bahwa citra mereka sangat baik. Di samping itu, partisipasi penduduk dalam menolak kolonial juga karena adanya kon ik intern di tubuh pemetintahan Indramayu, serta adanya kebijakan pemerintah pribumi sebagai kepanjangan tangan kolonial. Tidak heran jika para pemberontak dengan mudah menggalang masa untuk melakukan perlawanan, meskipun pada akhirnya kalah, karenan kekuatan militer yang tidak seimbang. Berbagai macam persoalan yang memicu dan membangkitkan semangat perlawanan hanya semata menduduki jabatan bupati. Karena pemanfaatan apparatus pemerintah pribumi dianggap oleh para pemberontak sebagai alat yang paling efektif dalam mengakhiri prakti deviatif yang tidak sesuai dengan prinsip Islam. 

Wallahu a’lam

ARTIKEL PILIHAN SEDULUR :

close