Asal Mula Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu -->

Advertisement

Asal Mula Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu

Berita Indramayu
Wednesday

Sekilas Tentang Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu* Indramayu*

Nama aliran kepercayaan ini yaitu Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu* Indramayu*. Penamaan di atas nyatanya memberikan satu keuntungan sendiri dalam hal mendorong kepopuleran aliran keprecayaan ini di Indonesia. Terlebih lagi bahwa simbol-simbol yg diperlihatkan menunjukan bahwa aliran kepercayan ini yaitu salah satu dari bagian dari bentuk kekunoan manusiia di tengah modernitas. Tdk heran bahwa rasa penasaran kerap kali muncul saat melihat sebuah taygan baik itu gambar atau video yg bercerita tentang aliran kepercayaan ini sehingga membuat banyak orang tergugah utk mengunjungi mereka.


Namun kesan awal yg didapat oleh peneliti saat berkunjung & bertemu dg pendirinya yaitu ternyata bahwa apa yg digambarkan selama ini tentang keadaan aliran kepercayaan ini tdk seutuhnya benar. Bahwa aliran ini tdk sepenuhnya dikat akan sbg sebuah aliran yg hidup dlm satu ruang yg jauh dari hingar bingar kemodernan. Namun justru sebaliknya bahwa aliran kepercayaan ini hidup dlm satu ruang sosial yg begitu modern.

Arti Dan Filosofi Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu* Indramayu*

Penjelasan tentang nama aliran kepercayaan ini ternyata menunjukan tdk ada hubungannya dg suku* Dayak’ yg ada di Kalimantan. Kat a “suku*” yg berarti kaki, yg menunjukan makna bahwasannya semua manusiia itu berjala n & berdir i diatas kaki masing-masin g utk mencapai keinginan yg seseuai dg kepercayaa n & keyakinan masing-masing. Sedangkan kat a daya k adalah bermula dari kat a a yak dan atau nga yak yg bermakna memili h dan atau menyarin g, dlm arti menyaring & memilah & memili h mana yg bena r & mana yg sala h. ”Hindu” bermakna “kandung an” da n atau “ra him”.

Arti dari filosofi tersebut adalah bahwasannya setiap “manusiia” dilahirkan dari “kandung an” sang ibu (peerempuan). Sementara kat a “Bu dha” asal dari kat a ”wu da” yg artiny a “telanja ng”, maksudnya semua pasti manusiia dilahir kan dlm kondisi yg telanjang. Selanjutnya kat a ”Bumi Se gandu Indramayu”. ”Bumi” me ngandung makkna wujud, sementara ”se gandu” bermakn a se kujur bada n. ”Bumi Se gandu” ber makna sbg kekuat an hidup. Ada pun kat a ”Indra mayu” berarti ”In” maknanya in ti, ”darm a” arti nya orangtua, & kat a ”a yu” arti nya perempu an. Makna filosofinya bahwa ibu (perempuan) merupa kan sumber hidup, karen a dari rahimnya lah kita semua dilahir kan. Itulah sebabnya mereka sangat menghormati kaum perempu an, yg tercerm in dlm ajaran & kehidupan mereka sehari-hari (Nuhrison M. Nuh, 2012; 123).

Lokasi Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu* Indramayu*

Aliran Kepercayaan Suku* Dayak*  Hindu* Budh a Bumi* Segandu* Indramayu* berlokasi di desa Karimun Kec. Losarang Indramayu. Karimun sendiri secara geografis terletak di jalur jalan Pantai Utara Jawa, sehingga akses menuju desa tersebut sangatlah mudah, meskipun letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan Indramayu. Kabupate n Indramayu* sendiri merupakan salah satu Kabupate n di Ja wa Barat. Nama Indramayu berasal dari kat a Darma Ayu yg diambil dari nama Nyi En&g Darma yg Ayu yaitu orang kedua pendiri Indramayu. Adapun kondisi wilayah Kabupaten Indramayu sangat diuntungkan secara ekonomis dg letak geografisnya yg berada dialur utama pantura yg merupakan urat nadi perekonomian nasional & membentang sepanjang pesisir pantai utara pulau Jawa dg panjang garis pantai 114 km. Luas wilayah Indramayu 204.011 Ha atau 2.040.110 Km² dg lahan pertanian yg begitu besar. Hal ini yg membuat Indramayu sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Selain itu yg khas dari Indramayu adalah sebagai penghasil buah mangga, sehingga terka&g Indramayu disebut sebagai kota mangga (Nuhrison M. Nuh, 2012; 123).

Berdasarkan data Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, pada bulan Januari 2010 penduduk Indramayu berjumlah 1.711.422 orang dg komposisi pemeluk agama: Islam 1.703.731 orang, Katolik 2.835 orang, Kristen 4.386 orang, Hindu 160 orang, Buddha 297 orang & Khonghucu 13 orang, disini tdk ada data tentang jumlah penganut kepercayaan lokal. Sedngkan jumlah tempat peribadatan utk umat Islam data pada tahun 2008 tercatat sebanyak 761 buah Masjid, 4229 buah Langgar & 549 buah Musholla. Sedgkan tempat peribadatan utk pemeluk agama lainnya berupa Gereja berjumlah 19 buah & Vihara 2 buah. ( Kemenag Kabupaten Indramayu, Data Keagamaan 2010)

Sedgkan dari segi pekerjaan, masyarakat Indramayu begitu beragam mulai dari petani, pedagang & beberapa pekerjaan lain seperti nelayan & tentu saja adalah pahlawan devisa negara sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Namun begitu berdasarkan kondisi alam yg sedemikian rupa, mayoritas penduduk Indramayu sangan tergantung kepada hasil pertanian.


Asal-Usul Terbentuknya Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu* Indramayu*

Hal ini juga termasuk pendiri aliran kepercayaan ini, Takmad*. Takmad* merupakan pendiri utama Suku* Dayak’ Losarang. Ia merupakan seorang spritualis yg lahir pada tanggal 10 Oktober 1940. Nama asli Takmad* adalah Takmad* Takmad*, namun sebagian sumber menyatakan namanya adalah Paheran Takmad* Diningrat*, & biasa dipanggil o leh pengikut nya sebagai Pa k Tua. Ia dilahirkan di Malang Semirang, Loh Bener, Indramayu. Sendagkan di desa Karimun di mana ia tinggal sekarang merupakan daerah asal istrinya, Sarini. Saat ini ia bersama dg istrinya tinggal di desa Karimun beserta lima orang anaknya & juga sebagian pengikutnya yg loyal. Di sana dibangun sebuah padepokan yg diberi nama Padepokan Nyi Ratu Kembar atau Padepokan Bumi Seghandu yg luasnya diperkirakan sekitar 2000m², di mana padaepokan itu dikelilingi tembok tinggi dg ornamen simbol-simbol tokoh pewaygan Jawa (Burhanudin Sanusi, 2015; 30).

Takmad* kecil hidup dalam keluarga petani sederhana yg penuh keterbatasan dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini yg kemudian membuat Takmad* sibuk utk memenuhi kebutuhan hidupnya dibandingkan utk mengenyam pendidikan. Menurut pengakuannya bahwa Ia hanya bersekolah selama dua tahun di Sekolah Rakyat. Perlu disebutkan di sini bahwa keluarga Takmad*, termasuk orang tuannya adalah muslim, namun sekaligus juga penganut ajaran Kejawen. Hal ini setdknya dibuktikan dg cerintanya bahwa dalam keluarganya sering diadakan ritual nyuguh (memberi sesajen buat leluhur) pada setiap malam jum’at. Namun begitu secara tegas Takmad* mengakui bahwa dirinya pada mulanya adalah muslim, namun sekarang sudah meninggalkan ajaran tersebut.

Tampaknya budaya Jawa atau aliran Kejawen menempati porsi yg khusus dalam mempengaruhi corak ajaran Suku* Dayak’ Losarang. Hal ini setdknya pada nama-nama yg digunakan utk Padepokan, atau juga bahwa Takma lebih tertarik menggunakan pewaygan Jawa sebagai metode mengajarkan ajarannya kepada murid-muridnya. Dalam satu kesempatan juga Ia menyatakan bahwa Jawa merupakan suku* di mana telah lahir darinya orang-orang yg hebat & sakti.

Saat menginjak remaja Takmad* tertarik utk empelajari ilmu kanuragan & ilmu kebatinan. Ia mempelajari ilmu tersebut dari seorang bernama Ali& yg berasal dari Banten yg konon darinya Takmad* menguasai ilmu menerawang dg indera ke-enam. Selain itu dalam beberapa catatan disebutkan bahwa guru lain dari Takmad* adalah Midun yg berasal dari Aceh. Namun tdk disangkal bahwa Takmad* berguru kepada mereka saat Ia tinggal di daerah Tomang Atas Jakarta Barat. Sumber lain menyatakan bahwa Takmad* mewarisi Ilmu Kebatinan & Kesaktian dari kakeknya Ki Darwi. Pada saat sebelum wafatnya Ki Darwi melakukan ritual pada malam Jum’at Kliwon dg mengikat & membungkus Takmad* dg kain kafan yg kemudian dimasukan ke dalam lemari selama tujuh hari (Tarsono, 2014; 38).

Tdk diragukan bahwa Takmad* pernah bekerja sbg Ku li di beberapa pelabuh an termasuk di daerah Cilingcing Jakarta Utara sekitar tahun 1960-1970. Di sana Takmad* diceritakan sebagai seorang Jawara yg menguasai wilayah tersebut. Namun begitu Takmad* dikenal sebagai orang yg baik dalam hal menolong teman-temannya khususnya saat terjadi gangguan dari makhluk gaib atau juga melakukan pengobatan alternatif. Di tempat ini juga Takmad* memulai mengajarkan Ilmunya kepada teman-temannya, dg memanfaatkan gu&g kosong yg berada di sekitar pelabuhan.

Pada tahun 1974, Takmad* kemudian kembali ke Indramayu & memulai perjalannya sebagai seorang Guru. Pada awalnya Takmad* mengajar di Silat Serbaguna (SS), yg di dalamnya mengajarkan ilmu kanuragan. SS ini merupakan salah cabang yg diketuai oleh Om Yudon. Ilmu serbaguna yg dipelajari di sini utk mendapatkan pengasihan, rezeki, pelaris & utk mengobati penyakit jasmani & rohani. Namun ternyata para muridnya yg telah menguasai ilmu tersebut cenderung bersifat sombong sehingga Takmad* kemudian membubarkan SS tersebut.

Setelah pembubaran SS Takmad* mengisi kehidupannya dg melakukan pertapaan. Pernah dikabarkan bahwa Takmad* melakukan pertapaan di dalam rumahnya selama empat bulan. & puncaknya pada tanggal 19 November 1996 dari pertapaan ini kemudian Ia memperoleh satu pencerahan yg memberi kabar bahwa di Indramayu akan terjadi woro-woro atau perang & banjir darah. Bagi Takmad* pencerahan ini dianggap sebagai awal dari lahirnya Sejarah Jawa. Atas hal ini pula kemudian Takmad* memberi nama kembali perguruannnya dg sebutan Gelaran Alam (Sejarah aadaya manusiia). Dari peristiwa ini kemudian Takmad* merubah arah perguruannnya yg semula merupakan perguruann si lat menjadi satu perguruann yg berguru kepada alam. & se telah se kian lama memper dalam ilmu ke batinan nya Takmad* pun me rasa men dapat pe murni an diri, dari hasill peng kajian ilmu ke batinan nya ini, akhirnya menemukan falsafah hidup tentang “kebenaran” yg di yakini da ri “Nur A lam” (caha ya ala m), yaitu bumii & langiit (Burhanudin Sanusi, 2015; 45).

Pada tahapan selanjutnya perguruann Takmad* ini kemudian fokus utk mengajak anggotanya supaya melaksanakan perbuatan yg benar & menjauhkan diri dari perbuatan salah, baik terhadap sesama manusiia maupun terhadap lingkungan. Perubahan orientasi inilah yg kemudian membuat perguruann Takmad* banyak menyedot perhatian masyaraka t utk menjadi pengikut nya. Dan perguruann ini kemudian dikenal dg sebutan Suku* Dayak* Hindu* Budha* Bumi* Segandu*.

ARTIKEL PILIHAN SEDULUR :

close